Definisi, Obyek Studi Filsafat Ilmu, Fungsi dan Peranan Filsafat Ilmu

Selintas kita sudah membahas apa itu filsafat pada pertemuan sebelumnya. Saat ini kita akan mendalami apa itu filsafat dan filsafat ilmu, serta membahas tentang obyek kajian, fungsi dan tujuan serta peranan filsafat ilmu bagi kegiatan ilmiah.

Filsafat berasal dari kata Yunani yang berarti cinta akan kebijaksanaan. Sehingga secara sederhana filsafat dapat dimengerti sebagai cinta atau kecenderungan akan kebijaksanaan atau cinta akan pengetahuan (Mustansyir dan Munir, 2009; Rapar, 1996). Pythagoras, misalnya, sang pencetus kata filsafat mengatakan ia hanyalah orang yang mencintai pengetahuan. Secara umum, para filusuf bersepakat akan pengertian etimologis tersebut. Sedangkan filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu, dipahami berbeda-beda oleh mereka. Plato sebagai salah satu filosof awal memahami filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran, dan penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan Beerling seorang guru besar filsafat di Indonesia mengajukan bahwa filsafat mengajukan pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, dan prinsip dari kenyataan. (Rapar, 1996) Dalam dunia Islam yang juga memiliki masa kejayaannya filsafat dipahami secara beragam. Al-Farabi, sang penerjemah karya filosof YUnani memahami filsafat sebagai “Ilmu tentang alam yang maujud, dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya”. Sedangkan dalam pandangan Sidi Gazalba, filsafat adalah “Berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu.” (Bakhtiar, 2009)

Meskipun para filusuf berbeda dengan pengertian filsafat, tetapi di antara pemahaman tersebut terdapat kesepahaman tentang sifat dasar dari berfikir filsafat. Ada tiga unsur yang menjadi dasar berfikir filsafat, antara lain radikal, universal dan komprehensif. Berfikir radikal berarti berfilsafat hingga pada hakikat atau substansi yang dipikirkan. Sedangkan universal berarti pemikiran filsafat mempelajari segala sesuatu yang menjadi pengalaman umum manusia dan komprehensif tidak lain adalah berfikir filsafat merupakan usaha menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.

Definisi dan Obyek Studi Filsafat Ilmu

Sebagai bagian dari cabang filsafat, para pemikir juga memiliki pengertian yang beragam mengenai apa itu filsafat ilmu. Sebagaimana Jujun S. Suriasumantri menyimpulkan filsafat ilmu sebagai refleksi sekunder yang mendalam atas kajian pengetahuan ilmiah, the Liang Gie, dalam bukunya menyebutkan beberapa pengertian mengenai filsafat ilmu yang salah satunya berpendapat Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode, konsep dan asumsi (praanggapan) serta letak dan kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual. (Mustansyir dan Munir, 2009)
Pengertian mengenai Filsafat ilmu juga dikemukakan oleh Lewis White Beck dalam bukunya mengenai pengantar filsafat ilmu, mendefinisikan cabang filsafat ini sebagai Filsafat yang mempertanyakan dan mengevaluasi metode pemikiran ilmiah untuk menentukan nilai dan signifikansi dari seluruh kegiatan ilmiah. (Muslih, 2003) Selain itu, Amtsal Bakhtiar, seorang muslim ahli Filsafat yang mendefisinikan Filsafat Ilmu sebagai kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu dengan menjawab persoalan tentang landasan ilmu (hakikat, sumber dan proses pengetahuan serta guna dan nilai dari ilmu). (Bakhtiar, 2009) Lebih lanjut, Bakhtiar menguraikan ketiga landasan ilmu tersebut yang akan dibahas secara lebih mendalam, dimana mengenai hakikat ilmu akan dibahas pada landasan Ontologi. Jika sumber dan proses pengetahuan dipelajari secara mendalam oleh landasan Epistemologi, maka landasan ilmu terakhir yang menjadi inti bahasan dari filsafat ilmu adalah mempelajari guna atau tujuan dan nilai yang dikandung di dalam ilmu, yakni studi mengenai Aksiologi.

Dari ketiga pengertian di atas kita dapat memahami bahwa filsafat ilmu tidak lain adalah segenap pemikiran yang sistematis dan radikal (berfikir mendalam) atas persoalan mengenai ilmu pengetahuan, landasan serta hubungannya dengan kehidupan manusia.

Sebagai suatu studi, filsafat ilmu tentu memiliki bahasan sebagaimana tersirat dalam pengetian di atas. Mengenai hal ini, para pembahas filsafat ilmu memahami obyek studi dari Filsafat Ilmu dalam dua hal, terdiri atas obyek material dan obyek formal. Obyek material atau pokok bahasan dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan yang telah tersistemasisasi dengan metode ilmiah dan telaah terhadap kebenarannya. Sedangkan obyek formal atau konsentrasi bahasan dari filsafat ilmu tidak lain adalah hakikat dari ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, filsafat ilmu bekerja untuk memahami persoalan mendasar dari suatu ilmu pengetahuan, seperti landasan filsafat ilmu (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) (Mustansyir dan Munir, 2009)

Fungsi dan Tujuan, serta Peranan Filsafat Ilmu

Dalam rangkumannya, Muslih mengutarakan bahwa filsafat ilmu berfungsi untuk mengetahui struktur logis yang bekerja di balik kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan ilmu, baik itu ilmu alam, ilmu sosial, juga ilmu humaniora, dan bahkan ilmu agama. (Muslih, 2003) Senada dengan ulasan Muslih, Rizal Mustansyir dan Misnal Munir menegaskan fungsi filsafat ilmu yang meletakkan pendasaran logis terhadap metode keilmuwan, dimana setiap orang dapat memahami serta menelaah metode tersebut secara logis-rasional dan menggunakannya. Selain itu filsafat ilmu juga menjadi sarana pengujian penalaran ilmiah, terhadap suatu penemuan ilmiah sehingga secara bersamaan orang juga dapat mengkritisi asumsi dan metode keilmuwan tersebut.

Selain tujuan di atas, filsafat ilmu juga memiliki peranan yang membedakan ruang lingkup studinya dari studi ilmu yang lebih khusus (ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, dan termasuk juga ilmu agama). Jika ilmu khusus mengarahkan metodologinya pada penyelidikan tentang hukum yang beraku pada perilaku alam, sosial, dan kekhususan lainnya, maka filsafat ilmu memiliki peranan dengan lebih mengarahkan kajiannya tentang hakikat dari ilmu khusus seperti hakikat ilmu alam, hakikat sosial, dsb. (Muslih, 2003) Pada taraf tertentu, filsafat ilmu tidak saja berperan dalam mengarahkan pola pikir para filosof dan aliran pemikiran di antara mereka, tetapi pada kehidupan sosial, filsafat ilmu juga sangat berperan dalam melahirkan pola hidup bahkan pandangan hidup masyarakat di era tertentu. Sebagai missal, “pola pikir saintifik yang mengusung rasionalisasai pada akhirnya muncul sebagai sebuah peradaban modern, yakni peradaban yang menuntut efisiensi, kompetitif, dinamis, dsb.”. (Muslih, 2003)

Jika melihat fungsi dan peranan dari filsafat ilmu yang cukup luas, maka bagaimana dengan cara kerja filsafat ilmu terhadap ilmu agama? Mungkinkan masyarakat Islam dapat menerima pemikiran dan aplikasi peranan serta fungsi filsafat ilmu ke dalam studi ini? Bagaimana pula dengan adagium integrasi-interkoneksi keilmuwan Islam dengan kegiatan ilmiah yang menjadi slogan sekaligus tujuan dari UIN saat ini? Apakah adagium tersebut dapat dianggap sebagai salah satu penerimaan masyarakat akademik UIN terhadap aplikasi filsafat ilmu dalam memberikan landasan bagi wilayah studi kita?

Tulisan dirangkum dari:
1.JH Rapar, Pengantar Filsafat
2.Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu
3.Amtsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu
4.Dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: