REFLEKSI KRITIS FILSAFAT MANUSIA TERHADAP PROBLEM MANUSIA MODERN (POWER POINT SLIDES)

21 Januari 2011
1. Filsafat Manusia membahas tentang jati diri manusia yang meliputi multi-dimensi. Dan nyatanya studi refleksif ini tidak berangkat dari ruang kkosong. Misalkan saja, perdebatan mengenai Ada = di era Filsafat Klasik mengejawantah pada problem perdebatan unsur terdasar dalam diri manusia, apakah Jiwa atau Badan. Begitu pula semangat Renaissan dan Humanisme di Barat turut menggawangi munculnya perdebatan kebebasan dan eksistensi manusia dari aliran Pragmatisme dan Eksistensialisme.

2. Pandangan-pandangan dalam Aliran Filsafat Manusia nyatanya memiliki kekurangan, terutama terlihat dalam keterjebakan pandangan tsb saat berbicara mengenai manusia dengan cara yang reduktif dan parsialistik. Saat ini terlihat dalam beberapa kasus, mislanya dunia maya yang mengahdirkan candu melalui Faecbook, dilihat sebagai ekspresi kebebasan manusia eksistensial dimana moralitas, tanggung jawab sepenuhnya menjadi hak milik pribadi (Aliran Eksistensialisme). Begitu pula Freudianisme saat melihat kasus pornografi (Ariel Peter’porn’) justru melihat bahwa seksualitas tidak lain adalah penentu perilaku manusia (kekuatan nir-sadar).

3. Pemikiran dalam Filsafat Manusia memiliki kecenderungan untuk memfokuskan diri pada pada tingkat eksplanasi problem manusia yang dihadapi oleh masing-masing aliran, sedangkan solusi yang dikembangkan pada beberapa aliran justru kurang tepat bagi manusia saat ini (muslim, Indonesia). Lebih terlihat ilusif atau utopis. Sebagai contoh, lagi-lagi pandangan Freud dan nirsadar yang hanya berhenti pada aspek deskripsi. Juga eksistensialis de Beauvoire sangat menonjolkan kebebasan diri dan eksistensi perempuan (manusia), namun minim eksplorasi tujuan dari kebebasan. Begitu pula manusia ideal ala Nietszche dan masyarakat tanpa kelas Marx yang utopis.

4. Perlu kita pahami lebih mendalam, bahwa krisis manusia pasca modern pada akhirnya menunjukkan kita akan adanya keterberhubungan langsung antara cara berfikir (paradigma) yg digunakan dan pola perilaku keseharian manusia. Mislanya, Korupsi menjadi budaya bagi masyarakat yang menghamba pada pola piker materialistik. Tetapi di lain sisi, kegagalan pemerintah melalui cara pandang structural dalam meredam konflik massa bukan saja karena perebutan mesin produksi (basic structure) tetapi juga persoalan identitas budaya dan keyakinan (ekspresi spiritualitas) suatu kelompok.

5. QUESTION: Bgaimana problem multidimensi manusia dapat diselesaikan secara menyeluruh?
ASSUMPTION: cara pandang (Ilmu/Keyakinan/Paradigma/Ideologi) hendaknya diperuntukkan bagi kepentingan manusia (dan dimensi kehidupan) secara keseluruhan

6. REFLEXIVE QUESTION: Apakah pandangan2 para filosof Barat tidak tepat sepenuhnya bagi manusia (muslim, Indonesian)? Apakah pandangan filosof Islam benar2 sanggup menjadi solusi bagi krisis manusia (muslim, Indonesian)? Kenyataannya kedua madzhab memiliki nilai ketepatan dan kekurangannya dlm melihat krisis manusia pasca-modern….

7. Kita harus kritis, bahwa manusia ala FIlsafat Manusia Barat, seringkali terombang-ambing (idealisme-materialisme, strukturalisme-pragmatisme, modernisme-posmodernisme). Tapi harus ingat juga dlm Islam, empirisme, deskripsi dan observasi thd tingkah laku manusia seringkali diacuhkan. Pemikiran thd manusia bersifat tautologis (mengulang2)

8. Humanisme Barat : Menekankan kepentingan manusia, duplikasi spirit Yunani (era awal filsafat) melalui Renaissan. Memperjuangkan kemanusiaan demi manusia sepenuhnya. Fakta Kristinitas dan kegelapan Masa Pertengahan (Filsafat Barat) membutuhkan sekulerisasi, maka begitu pula ilmu menjadi obyek sekulerisasi di Barat. Terjadilah fenomena “membunuh Tuhan”, manusia ideal yg egoistik ϋbermensch, yang pada akhirnya justru menuju keterjebakan berikutnya, yaitu dehumanisasi.

9. Humanisme Islam; Memanusiakan manusia dengan semangat kerasulan (profetik) yg meliputi multi-dimensi kehidupan manusia. Menekankan aspek struktural (unsur totalitas) dengan melibatkan aspek religiusitas sexcara tidak terpisah dari kehidupan keseharian (keterikatn antara aspek horizontal dan vertikal)

10. Aspek kehidupan manusia meliputi:
a. Pembentuk struktur (tauhid, keyakinan),
b. Struktur terdalam (keterhubungan manusia dg ajaran Qur’an; syari’ah , akhlak, dll)
c. Struktur permukaan (perilaku keagamaan, ekspresi keseharian manusia)  wilayah garapan studi ilmu humaniora

11. Titik tekan filsafat manusia tidak melihat idealitas manusia sebagai individu, tetapi juga manusia sebagai makhluk yang berada dalam suatu struktur masyarakat tertentu. Prototype nya ada pada Nabi Muhammad (sebagai personal piety) dan Masyarakat Madani (dalam aspek social piety)

****

Review BADAN VS JIWA or BADAN & JIWA

Plato Badan X Idea (Jiwa)

Penjara Baka

  1. Alam Idea adalah realita
  2. Berbicara tentang Pra-eksistensi Idea
  3. Anamnesis = mengenal adalah mengingat kembali

Aristoteles è Potensi –menuju– aktual

Materi (Matter) Badan

Bentuk (Form) Jiwa

Membagi Intelek (Rasio)

  1. Intelek teoritis (potensi)
  2. Intelek praksis (kemampuan badan/taraf instingtif dan jiwa rasional/taraf rasional)

IBN SINA

Allah à Manusia

Al Aql Al Af’al

Pembentuk Tubuh

Jiwa è Rasio Aktif à Baka

è Rasio Pasif à Non Baka (Musnah)

Alasan Non Baka: Relasi dg Indra Eksternal (Taraf Instingtif) dan Indra Internal (Taraf Rasional); exp: common sense, abstraksi, representasi, imajinasi, dll.

Al Aql Al Af’al adalah emanasi Akal Pertama (Allah) hingga kepada intelek manusia

Menjadi bukti bahwa proses penciptaan manusia adalah wajib ada

Mengalihkan perdebatan JIWA VS MANUSIA è CAUSA PRIMA

MANUSIA MAKHLUK SOSIAL

PLATO

Fungsi Jiwa

1. Fungsi rasional à kebijaksanaan

2. Fungsi Keberanian à kegagahan è K e a d i l a n

3. Fungsi Keinginan à hawa nafsu

Tujuan hidup manusia EUDAIMONIA

Aristoteles è Keadilan Praksis

Aristoteles: manusia secara kodrati adalah makhluk sosial.

Tujuan Manusia (Kebahagiaan) adalah mencari jalan tengah

JATI DIRI MANUSIA

JATI DIRI

“Aku adalah aku,

aku tetaplah aku”

Aku yang:

Seorang perempuan

Berasal dari keluarga muslim,

Sulung dari ayah dan ibuku,

Pernah ngaji di pesantren

Pernah belajar di Filsafat

Aku seorang ibu dan istri suamiku

ž  Aku, mengandaikan kesatuan utuh diri individual yang unik dan identik dengan diriku sendiri

 

“TETAPI”

Aku juga:

Bernafas,

Mempunyai darah yang mengalir dalam diriku,

Membaca dan berfikir,

Menangis dan tertawa,

Khawatir dan sedih,

Berharap dan jatuh cinta, 

ž  Aku terdiri dari bagian-bagian dan aspek-aspek yang kompleks (taraf fisik dan taraf mental) yang mengalami perkembangan setiap waktu

MAKA

Di dalam diri Manusia terdapat

KESATUAN (UNITAS)

Sekaligus

KEBERAGAMAN (KOMPLEKSITAS)

Aspek-aspek dan dimensi dalam keduanya yang menunjukkan jati diri seorang individu

 

ASPEK JATI DIRI

  1. KEPRIBADIAN
  2. KEUNIKAN INDIVIDUAL
  3. IDENTITAS DIRI

KEPRIBADIAN

  1. AnOrganik
  2. CITRA DIRI

    Organik

–          Taraf Vegetatif

–          Taraf Sensitif

–          Taraf Rasio/akal Budi

IDENTITAS DIRI

ž  Identitas diri manusia merupakan kesatuan individu (unitas dan kompleksitas) dilihat secara holistik dari waktu ke waktu (historisitas).

ž  Perjalanan kepribadian slalu mengalami pembentukan diri, sehingga terbentuk à  Identitas Diri; ciri khas diri yang slalu ada dlm perkembangan dr waktu ke waktu

ž  Masa Lalu à dsbt tahap kepenuhan diri yg tdk bs digugat lg; terdiri atas sekumpulan nilai yg diambil & membentuk diri serta nilai laten (nilai yg tersingkirkan & dianggap tdk relevan bg pembentukan diri. Ia juga dasar bg citra diri ‘masa kini’

ž  Masa kini adl ‘aku aktual’ à konkret, tdk dapat disangkal; tdk mudah ditangkap dan dianalisa;

ž  Masa depan itu riil; aktif dan hadir di masa kini, krn masa kini memuat dasar dan kemungkinan (citra diri) yg bisa dikembangkan di masa datang

–> Potensi: Aristo & Aquinas; Proses: Hume & Kant;

ž  Masa depan sdh termuat dlm kenyataan masa kini sbg antisipasi

ž  Kepribadian manusia di masa lampau –hasil koordinasi sluruh unsur- mewarnai arah pembentukan diri. Terdapat pula tanggung jawab manusia dmn aspek pemilahan nilai-nilai di dalam unsur terjadi.

ž  Identitas final, krn slalu aktif & berproses, hanya bisa ditentukan di akhir kehidupan seseorang

KEUNIKAN INDIVIDUAL

ž  Keunikan manusia terletak pada kesatuan diri sbg individu di tengah masyarakatnya

ž  Individu menjadi manusia berkat masyarakat; masyarakat tercipta karena komunikasi antar anggota

 

Masyarakat mempunyai ciri khas yg menjadi pola kontras (defining characteristic) dari nilai2 yg dikandung oleh anggotanya; sedang individu mewarisi nilai-nilai dr masyarakatnya.

(PAI) MANUSIA DAN AGAMA

Pertemuan II
PAI

Manusia dan Agama

QS. Al Insan (76): 1-3
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Apa Itu Agama
 Al Din, Religi (relegere, religare), dan agama è Undang-undang, Hukum
 Al Din è menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan.
 Relegere è mengumpulkan dan membaca
 Religare (latin) è mengikat
 Agama è a=tidak; gam=pergi tidak pergi, diam di tempat, diwarisi secara turun-temurun
Harun Nasution, Filsafat Mistisisme dalam Islam, 1974.

Agama adalah……
 Ikatan, undang-undang, hukum yg harus dipegang dan dipatuhi manusia
 Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yg berasal dari sesuatu kekuatan yg ghaib.
 Pemujaan thd kekuatan ghaib yg timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut thd kekuatan misterius yg terdapat dlm alam sekitar manusia
 Ajaran-ajaran yg diwahyukan Tuhan kpd manusia melalui seorang Rosul

MENGAPA MANUSIA BERAGAMA?
 Manusia mengabdikan dirinya pada sesuatu yg dianggap zat yg mempunyai kekuasaan tertinggi. (Prof. Jalaluddin)
 Kehidupan beragama merupakan:
1. Refleksi dr kehidupan berfikir manusia (Thomas Aquinas)
2. Rasa kagum yg berasal dari the wholly other (Rudolf Otto)
3. Kebutuhan jiwa manusia; rasa kasih sayang, rasa aman, harga diri, rasa ingin tahu, rasa bebas. (Prof. Zakiah Daradjat)
QS Ali Imran (3): 112
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS 3 : 112)

KAPAN SUATU KEPERCAYAAN DSBT AGAMA?
 Jika terdapat:
1. Ajaran Kepercayaan (Aqidah)
2. Ajaran pemujaan atau penyembahan (Ibadah)
3. Peraturan dlm melaksanakan hubungan thd Tuhan & sesama manusia (Syari’at
4. Nabi yg membawa
5. Ada Kitab suci yg menjadi sumber hukum

QS Yunus (10): 74
Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.

DUA ASPEK DALAM AGAMA
 Kesadaran agama (Religious Consciousness)
Bagian dr agama yg hadir dlm pikiran yg merupakan aspek mental dr aktivitas agama
Exp. Rasa lega setelah sembahyang, rasa tenang dan pasrah setelah berdoa
 Pengalaman Beragama (Religious experiences)
Unsur perasaan dlm kesadaran yg membawa keyakinan yg dihasilkan oleh tindakan (amaliyah) manusia. Exp. Pengalaman individu terhadap penghayatan ayat Al-Qur’an di dalam hidupnya.

AGAMA SBG PEDOMAN HIDUP
 Robert H. Thouless (Psikolog):
“Agama tidak lain adalah sikap (cara penyesuaian diri) terhadap dunia yg mencakup acuan yg menunjukkan lingkungan lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yg terikat ruang & waktu”
 Terdapat perbedaan antara tindakan beragama (religious) dan bukan beragama (irreligious) è bukti kepatuhan atas agama dlm religious consciousness dan religious experiences
 Kesulitan, bahaya, ketidakpastian dlm kehidupan menyadarkan manusia akan perlunya suatu petunjuk (nilai kepastian) untuk menghadapi semua itu.
a. pemujaan, kepatuhan, penghormatan, kepasrahan thd aturan (agama)
QS. Al Baqarah (2): 2
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
QS. Al Baqarah (2): 185
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Deskripsi Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pendidikan Agama (Islam)

Tehnik Kimia, UPN Veteran Yogyakarta 2010-2011

Deskripsi Mata Kuliah

Pendidikan Agama Islam dirancang untuk mempelajari Agama Islam guna memperkuat keimanan mahasiswa kepada Allah SWT, serta memperluas wawasan hidup beragama. Dalam perkuliahan ini secara umum membahas tentang esensi ajaran Islam baik yang berkenaan dengan Akidah, Syari’ah maupun Akhlak/Tasawuf.

Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi bertujuan untuk membantu terbinanya mahasiswa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berfikir filosofis, bersikap rasional, berpandangan luas, ikut serta mengembangkan dan memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk kepentingan manusia. Mata kuliah Pendidikan Agama merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian dalam susunan kurikulum inti Perguruan Tinggi di Indonesia. Bobot mata kuliah ini adalah 2 SKS dan wajib diambil oleh setiap mahasiswa yang beragama Islam pada semua program/ jurusan.

Materi:

1. Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (deskripsi, tujuan, metodologi memahami Islam)

2. Manusia dan Agama (manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna, kebutuhan manusia akan agama sebagai pedoman hidup)

3. Agama Islam (Sejarah dan sumber ajaran Islam)

4. Dasar dan Metodologi dalam Ajaran Islam (Akidah, Syari’ah, Akhlak)

5. Akidah (Arti dan ruang lingkup akidah, akidah dan/ tauhid, rukun iman)

6. Implikasi Akidah dalam konteks sosial (Akidah sebagai norma hidup manusia, Tauhid individu dan Tauhid Sosial, Tauhid dan persoalan Umat Islam saat ini)

7. Syari’ah (Sumber-sumber syari’ah dalam Islam, kedudukan Fiqh dalam Islam, Rukun Islam dan penjabarannya)

8. Syari’ah dan persoalan pedoman hidup umat Islam (pengertian dan nilai pentingnya pedoman hidup bagi manusia, syari’ah sebagai pedoman hidup umat Islam, kepekaan syari’ah akan kebutuhan terkini umat Islam)

9. Akhlak (pengertian, tujuan, ruang lingkup akhlak, nilai guna akhlak dalam kehidupan umat Islam)

10. Akhlak dan persoalan modern Umat Islam (perbedaan akhlak dengan etika dan moral, akhlak dan mu’amalah umat Islam,HAM dan lingkungan)

11. Ilmu Pengetahuan dalam Islam (ajaran Islam tentang pengetahuan, perkembangan pengetahuan bagi Islam)

12. Jihad dan ijtihad

13. Analisis

14. Post review

LANDASAN ILMU


  1. A. Ontologi

Pembicaraan tentang Ontologi berkisar pada persoalan bagaimanakah kita menerangkan tentang hakekat dari segala sesuatu? Perbincangan tentang hakekat berarti tentang kenyataan yang sebenarnya, bukanlah kenyataan semu ataupun kenyataan yang mudah berubah-ubah. Para filosof terutama era klasik dan pertengahan berbicara mengenai pengertian apa itu Ontologi? Secara etimologi, Ontologi berasal dari kata Yunani, On=being, dan Logos=logic. Sehingga Ontologi dapat dipahami sebagai ilmu yang membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ia berusaha mencari inti dari setiap kenyataan. (Muhajir, 2001: hlm. 57)

Bagi Sidi Gazalba Ontologi adalah dasar dari Filsafat yang membahas tentnag sifat dan keadaan terakhir dari suatu kenyataan. Sebab itulah Ontologi  disebut pula sebagai ilmu hakikat. Sementara itu, Amtsal Bakhtiar menyimpulkan bahwa Ontologi tidak lain adalah “Ilmu yang membahastentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak” (Bakhtiar, 2009: hlm.134)

Dalam perbincangannya, seringkali Ontologi dihubungkan dengan Metafisika, yakni cabang ilmu dalam filsafat yang berbicara mengenai keberadaa (being) dan eksistensi (existence). Untuk memperjelas keberadaan keduanya, Christian Wolf, sebagaimana dikutip oleh Rizal Mustansyir, membagi Metafisika menjadi dua, yakni Metafisika Umum atau Ontologi yang membahas tentang hal “Ada” (being) dan Metafisika khusus yaitu Psikologi (bicara hakikat manusia), Kosmologi (bicara asal-usul semesta) dan Teologi (bicara keberadaan Tuhan). (Mustansyir dan Munir, 2009: hlm. 12)

Pemikiran Ontologi (Metafisika Umum) yang berkisar pada hakikat dari yang Ada, telah mengelompokkan para filosof dalam beberapa kelompok, di antaranya;

  1. Monisme; yang mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa materi maupun ruhani yang menjadi sumber dominan dari yang lainnya.  Para filosof pra-Socrates seperti Thales, Demokritos, dan Anaximander termasuk dalam kelompok Monisme, selain juga Plato dan Aristoteles. Sementara filosof Modern seperti I. Kant dan Hegel adalh penerus kelompok Monisme, terutama pada pandangan Idealisme mereka.
  1. b. Dualisme; kelompok ini meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yang spirit dan jasad. Asal yang materi berasal dari yang ruh, dan yang ruh berasal dari yang materi. Descartes adalah contoh filosof Dualis dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).

  1. Pluralisme; kelompok ini berpandangan bahwa hakikat kenyataan ditentukan oleh kenyataan yang jamak/berubah-ubah. Filosof Klasik, Empedokles, adalah tokoh Pluralis yang mengatakan bahwa kenyataan tersusun oleh banyak unsur (tanah, air, api, dan udara). Tokoh Pragmatisme, William James  juga seorang Pluralis yang berpendapat karena pengalaman kita selalu berubah-ubah, maka tidak ada kebenaran hakiki kecuali kebenaran-kebenaran yang selalu diperbarui oleh kebenaran selanjutnya.
  1. Nihilisme; kelompok Nihilis diprakarsai oleh kaum Sofis di era Klasik. Mereka menolak kepercayaan tentang realitas hakiki. Realitas, menurut mereka adalah tunggal sekaligus banyak, terbatas sekaligus tidak terbatas, dan tercipta sekaligus tidak tercipta. Selain tokoh Sofis, Friedrich Nietzsche adalah tokoh filosof Eropa yang sangat bernuansa Nihilisme, hingga ia meniadakan keberadaan Tuhan “Allah sudah mati”

  1. e. Agnostisisme; pada intinya Agnostisisme adalah paham yang mengingkari bahwa manusia mampu mengetahui hakikat yang ada baik yang berupa materi ataupun yang ruhani. Aliran ini juga menolak pengetahuan manusia tentang hal yang transenden. Contoh paham Agnostisisme adalah para filosof Eksistensialisme, seperti Jean Paul Sartre yang juga seorang Ateis. Sartre menyatakan tidak ada hakikat ada (being) manusia, tetapi yang ada adalah keberadaan (on being)-nya. (Bakhtiar, 2009: hlm. 135-48) 

  1. B. Epistemologi

Epistemologi adalah landasan ilmu yang mempersoalkan hakikat dan ruang lingkup dari pengetahuan. Ia berasal dari istilah Yunani “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” yang artinya teori; jadi epistemologi secara terminologi dapat dipahami sebagai teori tentang pengetahuan. Epistemologi mempertanyakan berbagai persoalan seputar pengetahuan, seperti: Apa sumber pengetahuan dan dari mana pengetahuan itu didapatkan? Apa sifat dasar dari pengetahuan? Serta apakah pengetahuan itu benar, atau bagaimanakah kita membedakan yang benar dari pengetahuan salah?

Secara general, aliran dalam Epistemologi terbagi menjadi dua, pertama Rasionalisme atau Idealisme, dan kedua Empirisme atau Realisme. Yang pertama menekankan pada pentingnya peran ‘akal’ dan ‘idea’ sebagai sumber ilmu pengetahuan, sedangkan panca indera dinomorduakan. Sedangkan aliran kedua berbicara tentang penekanan ‘indera’ dan ‘pengalaman’ sebagai sumber sekaligus alat dalam memperoleh pengetahuan. Kedua kelompok ini saling bersitegang, hingga munculnya aliran ketiga, yaitu Rasionalisme Kritis yang menekankan adanya kategori sintesis yakni perpaduan antara kedua sumber pengetahuan (akal dan rasio) dalam sebuah ilmu pengetahuan. (Abdullah,dkk, 1995)

Obyek Material dari Epistemologi adalah pengetahuan itu sendiri, sedangkan hakikat pengetahuan adalah obyek formal yang menjadi pembahasan inti dari Epistemologi. Secara umum dapat dikatakan bahwa epistemologi membahas apa yang disebut sebagai pengetahuan dan ‘kebenaran ilmiah’ dari pengetahuan tersebut, yang membedakannya dengan pengetahuan karena ‘kepercayaan’, yang disebut Mustansyir sebagai pengetahuan nir-ilmiah.

Dari karakteristik dasarnya, suatu pengetahuan dapat dibedakan menjadi setidaknya empat pengetahuan, yakni:

  1. Pengetahuan indrawi; adalah pengetahuan yang didapatkan melalui indera (sense) atau pengalaman (empiric).
  2. Pengetahuan akal budi; adalah pengetahuan yang didapatkan melalui pendasaran rasio atau pemikiran.

Kedua pengetahuan diatas, disebut sebagai dasar dari pengetahuan ilmiah. Berbeda dengan keduanya, dua pengetahuan terakhir seringkali dipertanyakan kadar ke-ilmiah-an nya. Yakni:

  1. Pengetahuan intuitif; pengetahuan yang didapatkan dari kesadaran akan pengalaman langsung, melalui intuisi. Beberapa filosof Islam menekankan pengetahuan ini, seperti Ilmu Hudluri a-la Suhrawardi dan Mulla Sadra (Iran)
  2. Pengetahuan Kepercayaan; adalah pengetahuan yang didapatkan dari otoritas atau profesionalitas seorang tokoh atau sekelompok orang. Pengetahuan yang didapatkan dari doktrin agama biasanya dimasukkan ke dalam pengetahuan jenis ini.   (Mustansyir dan Munir, 2009)
  1. C. Aksiologi

Aksiologi, secara etimologi berasal dari kata axios yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Sehingga Aksiologi dapat dipahami sebagai ilmu yang menjadikan kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai sebagai problem bahasannya. Nilai yang dimaksud dalam hal ini adalah “Sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai” (Bakhtiar, 2009) Dengan demikian, obyek formal dari Aksiologi adalah nilai itu sendiri.

Dari pengertian terminologi di atas, pembahasan Aksiologi terdiri atas beberapa faktor penting di dalamnya.

Pertama, Aksiologi  membahas tentang kodrat suatu nilai, atau dengan kata lain pertama-tama Aksiologi membicarakan apa hakikat terdalam dari suatu nilai. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para filosof memiliki jawaban beragam. Misalnya, Spinoza menganggap bahwa nilai berasal dari ‘keinginan’, Immanuel Kant melihat nilai berasal dari keinginan akal budi murni, sedangkan Hobbes berujar bahwa nilai adalah entitas yang didasarkan atas keinginan manusia untuk menang (survival of the fittest) sedangkan kaum Pragmatis seperti William James melihat nilai berasal dari relasi antara sesuatu (hal/benda) dengan tujuan praktis kehidupan manusia.

Kedua, Aksiologi memperdebatkan perbedaan jenis dari suatu nilai. Secara umum, pemikiran tentang perbedaan jenis membedakan nilai dari yang intrinsik, yaitu nilai yang berada di dalam diri suatu benda (atau peristiwa) dan nilai yang instrumental, yaitu nilai yang muncul hanya karena entitas/sifat tersebut dilekatkan pada suatu benda (atau peristiwa). Secara sederhana, keduanya dapat dimisalkan pada nilai alat pemotong dari sebuah pisau disebut sebagai nilai intrinsik, sedangkan alat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh adalah nilai instrumental yang hanya akan muncul jika dilekatkan pada sebuah pisau.    

Ketiga, Aksiologi juga berbicara pada kriteria dari suatu nilai, yakni kadar ukuran yang digunakan untuk meletakkan nilai pada suatu benda atau peristiwa. Bagi kaum Positivis kadar keobjektifan suatu tindakan atau suatu pemikiran menjadi ukuran nilai suatu peristiwa. Sedangkan seorang Hedonist melihat kesenangan manusia adalah nilai tertinggi yang ingin didapatkan manusia. Sedangkan seorang penganut intuitif melihat pengalaman langsung sebagai kadar paling tinggi dari sebuah tindakan manusia.

Terakhir, Aksiologi berbicara mengenai status metafisik suatu nilai. Yakni bagaimana hubungan antara nilai dan fakta yang diamati. Dalam hal ini terdapat tiga perbedaan pandangan tentang nilai.

  1. Subjektivisme, yang berpandangan bahwa suatu nilai berhubungan erat dengan pengalaman manusia. Contohnya adalah pendapat kaum Hedonis yang berpandangan jika seorang konglomerat menghabiskan uangnya dianggap tepat (atau baik) selama itu bermanfaat langsung dalam memenuhi rasa senangnya.
  2. Obyektifisme Logis; berpandangan bahwa hakikat suatu nilai terdapat pada konsekuensi logisnya, walaupun tanpa disertai hubungan langsung dengan suatu pengalaman. Misalnya, menghabiskan uang (milik sendiri) bagi kesenangan hidupnya, pada hakikatnya adalah buruk. Meski tanpa menghambur-hamburkan uang tersebut, seorang konglomerat dapat memahami secara logis bahwa tindakan tersebut adalah buruk.
  3. Obyektifisme Metafisik; melihat suatu nilai sebagai bagian integral dari kenyataan metafisik. Bagi penganut Objektifis Metafisik, menghambur-hamburkan uang (walau milik sendiri) hanya demi kesenangan semu adalah semata-mata tindakan yang buruk. (Mustansyir dan Munir, 2009)

Dalam perjalanannya, Aksiologi atau ilmu tentang nilai terbagi menjadi beberapa disiplin, yakni Etika dan Estetika. Beberapa filosof memasukkan pula Logika sebagai bagian dari Aksiologi. Etika adalah cabang Aksiologi yang mengkhususkan pembahasan pada asas nilai baik dan buruk. Etika disebut pula Filsafat Moral. Sedangkan Estetika adalah bidang Aksiologi yang mengkhususkan diri pada pembahasan asas-asas nilai indah dan yang tidak indah (buruk). Sedangkan Logika memfokuskan obyek formalnya pada hal yang salah dan benar dari suatu pernyataan.

Dirangkum dari:

  1. Amtsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu
  2. Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu
  3. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu
  4. Amin Abdullah, dkk, Filsafat Islam

KRONOLOGIS HISTORIS SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

ISNA ASTARINI

09710086

Kebudayaan manusia ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi secara cepat yang merupakan akibat peran serta pengaruh dari pemikiran filsafat Barat. Pada awal perkembangannya, yakni zaman Yunani Kuno, filsafat diidentikkan dengan ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah antara pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan tidak dipisah, sehingga semua pemikiran manusia yang muncul pada zaman itu disebut filsafat. Pada abad Pertengahan, filsafat menjadi identik dengan agama, sehingga pemikiran filsafat pada zaman itu menjadi satu dengan dogma gereja. Pada abad ke-15 muncullah Renaissans kemudian disusul oleh Aufklaerung pada abad ke-18 yang membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Pada masa ini filsafat memisahkan diri dari agama, sehingga membuat orang berani mengeluarkan pendapat mereka tanpa takut akan dikenai hukuman oleh pihak gereja. Filsafat zaman modern tetap sekuler seperti zaman Renaissans, yang membedakan adalah pada zaman ini ilmu pengetahuan berpisah dari filsafat dan mulai berkembang menjadi beberapa cabang yang terjadi dengan cepat. Bahkan pada abad ke-20, ilmu pengetahuan, mulai berkembang menjadi berbagai spesialisasi dan sub-spesialisasi.

Ilmu pengetahuan pada awalnya merupakan sebuah sistem yang dikembangkan untuk mengetahui keadaan lingkungan disekitanya. Selain itu, ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Pada abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu telah menjadi sesuatu yang substantif yang menguasai kehidupan manusia. Namun, tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesat juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini didorong oleh kecenderungan pemecahan masalah kemanusiaan yang lebih banyak bersifsat sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.

Perkembangan filsafat Barat dibagi menjadi beberapa periodesasi yang didasarkan atas ciri yang dominan pada zaman tersebut. Periode-periode tersebut adalah :

1. Zaman Yunani Kuno (Abad 6SM-6M)

    Ciri pemikirannya adalah kosmosentris, yakni mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Dan beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentang arche, antara lain :

    • Thales (640- 550 SM)             :  arche berupa air
    • Anaximander (611-545 SM)   :  arche berupa apeiron (sesuatu yang tidak terbatas)
    • Anaximenes (588-524 SM)     :  arche berupa udara
    • Phytagoras (580-500 SM)       :  arche dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan.

    Selain keempat tokoh di atas ada dua filosof, yakni Herakleitos (540-475 SM) dan Parmindes (540-475 SM) yang mempertanyakan apakah realitas itu berubah, bukan menjadi sesuatu yang tetap. Pemikir Yunani lain yang merupakan salah satu yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak, dan tomos-terbagi). Selain itu, filosof yang sering dibicarakan adalah Socrates (470-399 SM) yang langsung menggunakan metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan dialektika (dialegesthai) yang artinya bercakap-cakap.  Hal ini pula yang diteruskan oleh Plato (428-348 SM). Dan pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan adalah mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia pun berpendapat bahwa tiap kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material, penyebab formal, penyebab efisien dan penyebab final.

    2. Zaman Pertengahan (6-16M)

      Ciri pemikiran pada zaman ini ialah teosentris yang menggunakan pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma agama Kristiani. Pada zaman ini pemikiran Eropa terkendala oleh keharusan kesesuaian dengan ajaran agama. Filsafat Agustinus (354-430) yang dipengaruhi oleh pemikiran Plato, merupakan sebuah pemikiran filsafat yang membahas mengenai keadaan ikut ambil bagian, yakni suatu pemikiran bahwa pengetahuan tentang ciptaan merupakan keadaan yang menjadi bagian dari idea-idea Tuhan. Sedangkan Thomas Aquinas (1125-1274) yang mengikuti pemikiran filsafat Aristoteles, menganut teori penciptaan dimana Tuhan menghasilkan ciptaan dari ketiadaan. Selain itu, mencipta juga berarti terus menerus menghasilkan serta memelihara ciptaan.

      3. Zaman Renaissans (14-16M)

      Merupakan suatu zaman yang menaruh perhatian dalam bidang seni, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Zaman ini juga dikenal dengan era kembalinya kebebasan manusia dalam berpikir. Tokoh filosof zaman ini diantaranya adalah Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang mengemukakan teori heliosentrisme, yang mana matahari merupakan pusat jagad raya. Dan Francis Bacon (1561-1626) yang menjadi perintis filsafat ilmu pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power

      4. Zaman Modern (17-19M)

        Filsafat zaman ini bercorak antroposentris, yang menjadikan manusia sebagai pusat perhatian penyelidikan filsafati. Selain itu, yang menjadi topik utama ialah persoalan epistemologi.

        a. Rasionalisme

          Aliran ini berpendapat bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya. Pengalaman hanya dipakai untuk menguatkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui akal. Salah satu tokohnya adalah Rene Descartes (1598-1650) yang juga merupakan pendiri filsafat modern yang dikenal dengan pernyataannya Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada). Metode yang digunakan Descrates disebut dengan a priori yang secara harfiah berarti berdasarkan atas adanya hal-hal yang mendahului. Maksudnya adalah dengan menggunakan metode ini manusia seakan-akan sudah mengetahui dengan pasti segala gejala yang terjadi.

          b. Empirisisme

            Menyatakan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman, baik lahir maupun batin. Akal hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah a posteriori atau metode yang berdasarkan atas hal-hal yang terjadi pada kemudian. Dipelopori oleh Francis Bacon yang memperkenalkan metode eksperimen.

            c. Kritisisme

              Sebuah teori pengetahuan yang berupaya untuk menyatukan dua pandangan yang berbeda antara Rasionalisme dan Empirisme yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Ia berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil yang diperoleh dari adanya kerjasama antara dua komponen, yakni yang bersifat pengalaman inderawi dan cara mengolah kesan yang nantinya akan menimbulkan hubungan antara sebab dan akibat.

              d. Idealisme

                Berawal dari penyatuan dua Idealisme yang berbeda antara Idealisme Subyektif (Fitche) dan Idealisme Obyektif (Scelling) oleh Hegel (1770-1931) menjadi filsafat idealisme yang mutlak. Hegel berpendapat bahwa pikiran merupakan esensi dari alam dan alam ialah keseluruhan jiwa yang diobyektifkan. Asas idealisme adalah keyakinan terhadap arti dan pemikiran dalam struktur dunia yang merupakan intuisi dasar.

                e. Positivisme

                  Didirikan oleh Auguste Comte (1798-1857) yang hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif ilmiah. Semboyannya yang sangat dikenal adalah savoir pour prevoir, yang artinya mengetahui supaya siap untuk bertindak. Maksudnya ialah manusia harus mengetahui gejala-gejala dan hubungan-hubungan antar gejala sehingga ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi. Filsafat ini juga dikenal dengan faham empirisisme-kritis, pengamatan dengan teori berjalan beriringan. Ia membagi masyarakat menjadi atas statika sosial dan dinamika sosial.

                  f. Marxisme

                    Pendirinya ialah Karl Marx (1818-1883) yang aliran filsafatnya merupakan perpaduan antara metode dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach. Marx mengajarkan bahwa sejarah dijalankan oleh suatu logika tersendiri, dan motor sejarah terdiri hukum-hukum sosial ekonomis. Baginya filsafat bukan hanya tentang pengetahuan dan kehendak, melainkan tindakan, yakni melakukan sebuah perubahan, tidak hanya sekedar menafsirkan dunia. Yang perlu diubah adalah kaum protelar harus bisa mengambil alih peranan kaum borjuis dan kapitalis melalui revolusi, agar masyarakat tidak lagi tertindas.

                    5. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 dan seterusnya)

                      Pokok pemikirannya dikenal dengan istilah logosentris, yakni teks menjadi tema sentral diskursus para filosof. Hal ini dikarenakan ungkapan-ungkapan filsafat cenderung membingungkan dan sulit untuk dimengerti. Padahal tugas filsafat bukanlah hanya sekedar membuat pernyataan tentang suatu hal, namun juga memecahkan masalah yang timbul akibat ketidakpahaman terhadap bahasa logika, dan memberikan penjelasan yang logis atas pemikiran-pemikiran yang diungkapkan.

                      Pada zaman ini muncul berbagai aliran filsafat dan kebanyakan dari aliran-aliran tersebut merupakan kelanjutan dari aliran-aliran filsafat yang pernah berkembang pada zaman sebelumnya, seperti Neo-Thomisme, Neo-Marxisme, Neo-Positivisme dan sebagainya.

                      *Dirangkum dari “Sejarah fan Perantara Pemikiran Filsafat”  dalam Filsafat Ilmu karya Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009

                      Previous Older Entries

                      %d bloggers like this: