Sains dan Pencarian Makna II

Epistemologi “Behavioral”

Kegigihan filsafat sains baru untuk menggoyang saintisme menjadi radikal dalam kritik Richard Rorty terhadap epistemologi itu sendiri. Pendiriannya yang disebut “behavioral epistemology” meletakkan persoalan kebenaran dalam kerangka “linguistic turn” di abad ke-20, yaitu sebagai persoalan bahasa. Seperti dibuktikan oleh Richard Rorty dalam buknya, Philosophy and the Mirror of Nature,sains modern bertumpu pada asumsi epistemologis Cartesian bahwa rasio manusia mampu mencerminkan realitas, dan bahasa logis dalam sains dianggap sebagai representasi atas realitas itu.

Rorty menolak asumsi itu. Menurut Rorty, pengetahuan dan bahasa ilmiah bukanlah cerminan alam, melainkan “a justified true belief” yang ditetapkan lewat conversation. Dengan kalimat lain, sains hanyalah salah satu aktivitas manusia untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan bertindak untuk menghadapi lingkungannya. Istilah atom, misalnya, bukan cermin realitas; istilah ini dianggap “benar” karena pada praktiknya berguna (berfungsi) untuk menghadapi realitas. Istilah itu sendiri tidak isomorfis dengan realitas. Jadi, sains bukanlah metabahasa yang mengatasi praktik-praktik lain, melainkan hanyalah salah satu language-game dalam praktik conversation dalam masyarakat.

Language-games lainnya adalah agama, politik, kebudayaan, dan seterusnya. Pencarian makna dalam sains bukanlah pencarian kebenaran metahistoris, melainkan “pergantian language-game” atau “sejarah metafor” yang tidak pernah berkesinambungan, melainkan merupakan patahan- patahan paradigmatik.

’Makna’ dalam Sains dan Agama

Meskipun filsafat sains baru dan epistemologi behavioral memberi tilikan-tilikan yang makin menerima peran manusia dalam konstruksi “kebenaran”, tak seluruh asumsinya dapat kita terima. Membawa sains dan agama ke dalam satu arena pencarian makna dengan menganggap keduanya sebagai language- games dalam masyarakat bebas tidaklah menyelesaikan pertarungan antara agama dan sains yang dikobarkan sejak Pencerahan.

Alih-alih posisi kedua, saya ingin menunjukkan daya tarik posisi ketiga, yaitu bahwa sains dan agama adalah dua perspektif berbeda yang ingin menjelaskan dunia dan kehidupan. Perspektif ilmiah melihat alam sebagai dunia objektif atau fakta-fakta yang tunduk pada hukum-hukum kausal dan mekanistis. Lewat perspektif ini kita membuat prognosis dan manipulasi teknis atas alam. Di dalam sains makna bersangkutan dengan kebenaran faktual tentang proses-proses dalam dunia objektif itu. Namun, kita tidak hanya menghadapi alam sebagai fakta-fakta, melainkan juga bermukim di dalamnya sebagai suatu dunia yang dihayati. Perspektif religius melihat alam dalam kaitannya dengan kenyataan transendental dan penghayatan eksistensial kita. Berbeda dari kebenaran faktual, makna dalam agama bersangkutan dengan kebenaran eksistensial dan transendental tentang tujuan kehidupan kita di dunia ini. Karena itu, alih-alih pengambilan jarak, perspektif religius memusatkan diri pada perjumpaan. Bencana tsunami di Aceh, misalnya, dari perspektif ilmiah merupakan peristiwa dalam dunia objektif yang dapat dikalkulasi secara geologis. Namun, perspektif religius memaknai tsunami ini secara eksistensial dan transendental sebagai perjumpaan dengan hal-hal yang melampaui rasionalitas. Seperti dikatakan Clifford Geertz, sekurangnya ada tiga soal di mana manusia menghadapi batas-batas pemaknaan rasionalnya atas alam: pertama, pada batas-batas kemampuan analitisnya; kedua, pada batas-batas kekuatannya untuk menanggung penderitaan; dan ketiga, pada batas-batas tilikan moralnya. Makna eksistensial transendental agama bermain dalam ruang-ruang perbatasan ini. Sementara itu, fokus perspektif ilmiah adalah manipulabilitas dunia objektif, perspektif religius berfokus pada interseksi eksistensial antara dunia objektif, subjektif, dan intersubjektif sebagai suatu pergumulan dengan realitas-realitas akhir.

Jika posisi ketiga ini diambil, kita tidak perlu mempertarungkan sains dan agama dalam masalah-masalah, seperti teori evolusi, intelegensia artifisial, realitas kuantum, teori genom, dan seterusnya. Semua penjelasan ilmiah ini tentu ikut mengguncang (atau bahkan meningkatkan) keyakinan iman bahwa manusia adalah makhluk spesial di jagat raya ini. Namun, distingsi kita tentang kedua perspektif di atas memperlihatkan bahwa sains tidak mempersoalkan kebenaran eksistensial dan transendental, seperti juga agama (dalam Kitab Suci dan teologinya) tidak berpretensi untuk menjadi sains yang memberi penjelasan tentang kebenaran faktual. Interpretasi fundamentalistis yang menolak teori evolusi atas nama kreasionisme, misalnya, justru menampakkan diri sebagai pseudo-sains yang sekadar mencocok-cocokkan ayat-ayat Kitab Suci dengan data empiris. Pseudo-sains seperti itu akan merugikan agama sendiri karena agama lalu menutup diri terhadap sains dan menjadi terisolasi dari perkembangan intelektual umat manusia. Sebaliknya, upaya untuk berteologi dengan mengadaptasi teori-teori sains juga akan kontra-produktif karena teologi yang hari ini menginduk pada kebenaran sains yang sementara besok menjadi yatim piatu.

Posisi ketiga tampak lebih produktif: agama dan sains memiliki otonomi mereka masing-masing dalam pencarian makna; yang satu tidak boleh direduksi kepada yang lain. Hanya dengan jalan itu sains dan agama tidak saling bercampur, tapi juga tidak saling mengisolasi, melainkan justru berkembang pada ranah dan perspektifnya masing-masing dalam pencarian makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: