REFLEKSI KRITIS FILSAFAT MANUSIA TERHADAP PROBLEM MANUSIA MODERN (POWER POINT SLIDES)

21 Januari 2011
1. Filsafat Manusia membahas tentang jati diri manusia yang meliputi multi-dimensi. Dan nyatanya studi refleksif ini tidak berangkat dari ruang kkosong. Misalkan saja, perdebatan mengenai Ada = di era Filsafat Klasik mengejawantah pada problem perdebatan unsur terdasar dalam diri manusia, apakah Jiwa atau Badan. Begitu pula semangat Renaissan dan Humanisme di Barat turut menggawangi munculnya perdebatan kebebasan dan eksistensi manusia dari aliran Pragmatisme dan Eksistensialisme.

2. Pandangan-pandangan dalam Aliran Filsafat Manusia nyatanya memiliki kekurangan, terutama terlihat dalam keterjebakan pandangan tsb saat berbicara mengenai manusia dengan cara yang reduktif dan parsialistik. Saat ini terlihat dalam beberapa kasus, mislanya dunia maya yang mengahdirkan candu melalui Faecbook, dilihat sebagai ekspresi kebebasan manusia eksistensial dimana moralitas, tanggung jawab sepenuhnya menjadi hak milik pribadi (Aliran Eksistensialisme). Begitu pula Freudianisme saat melihat kasus pornografi (Ariel Peter’porn’) justru melihat bahwa seksualitas tidak lain adalah penentu perilaku manusia (kekuatan nir-sadar).

3. Pemikiran dalam Filsafat Manusia memiliki kecenderungan untuk memfokuskan diri pada pada tingkat eksplanasi problem manusia yang dihadapi oleh masing-masing aliran, sedangkan solusi yang dikembangkan pada beberapa aliran justru kurang tepat bagi manusia saat ini (muslim, Indonesia). Lebih terlihat ilusif atau utopis. Sebagai contoh, lagi-lagi pandangan Freud dan nirsadar yang hanya berhenti pada aspek deskripsi. Juga eksistensialis de Beauvoire sangat menonjolkan kebebasan diri dan eksistensi perempuan (manusia), namun minim eksplorasi tujuan dari kebebasan. Begitu pula manusia ideal ala Nietszche dan masyarakat tanpa kelas Marx yang utopis.

4. Perlu kita pahami lebih mendalam, bahwa krisis manusia pasca modern pada akhirnya menunjukkan kita akan adanya keterberhubungan langsung antara cara berfikir (paradigma) yg digunakan dan pola perilaku keseharian manusia. Mislanya, Korupsi menjadi budaya bagi masyarakat yang menghamba pada pola piker materialistik. Tetapi di lain sisi, kegagalan pemerintah melalui cara pandang structural dalam meredam konflik massa bukan saja karena perebutan mesin produksi (basic structure) tetapi juga persoalan identitas budaya dan keyakinan (ekspresi spiritualitas) suatu kelompok.

5. QUESTION: Bgaimana problem multidimensi manusia dapat diselesaikan secara menyeluruh?
ASSUMPTION: cara pandang (Ilmu/Keyakinan/Paradigma/Ideologi) hendaknya diperuntukkan bagi kepentingan manusia (dan dimensi kehidupan) secara keseluruhan

6. REFLEXIVE QUESTION: Apakah pandangan2 para filosof Barat tidak tepat sepenuhnya bagi manusia (muslim, Indonesian)? Apakah pandangan filosof Islam benar2 sanggup menjadi solusi bagi krisis manusia (muslim, Indonesian)? Kenyataannya kedua madzhab memiliki nilai ketepatan dan kekurangannya dlm melihat krisis manusia pasca-modern….

7. Kita harus kritis, bahwa manusia ala FIlsafat Manusia Barat, seringkali terombang-ambing (idealisme-materialisme, strukturalisme-pragmatisme, modernisme-posmodernisme). Tapi harus ingat juga dlm Islam, empirisme, deskripsi dan observasi thd tingkah laku manusia seringkali diacuhkan. Pemikiran thd manusia bersifat tautologis (mengulang2)

8. Humanisme Barat : Menekankan kepentingan manusia, duplikasi spirit Yunani (era awal filsafat) melalui Renaissan. Memperjuangkan kemanusiaan demi manusia sepenuhnya. Fakta Kristinitas dan kegelapan Masa Pertengahan (Filsafat Barat) membutuhkan sekulerisasi, maka begitu pula ilmu menjadi obyek sekulerisasi di Barat. Terjadilah fenomena “membunuh Tuhan”, manusia ideal yg egoistik ϋbermensch, yang pada akhirnya justru menuju keterjebakan berikutnya, yaitu dehumanisasi.

9. Humanisme Islam; Memanusiakan manusia dengan semangat kerasulan (profetik) yg meliputi multi-dimensi kehidupan manusia. Menekankan aspek struktural (unsur totalitas) dengan melibatkan aspek religiusitas sexcara tidak terpisah dari kehidupan keseharian (keterikatn antara aspek horizontal dan vertikal)

10. Aspek kehidupan manusia meliputi:
a. Pembentuk struktur (tauhid, keyakinan),
b. Struktur terdalam (keterhubungan manusia dg ajaran Qur’an; syari’ah , akhlak, dll)
c. Struktur permukaan (perilaku keagamaan, ekspresi keseharian manusia)  wilayah garapan studi ilmu humaniora

11. Titik tekan filsafat manusia tidak melihat idealitas manusia sebagai individu, tetapi juga manusia sebagai makhluk yang berada dalam suatu struktur masyarakat tertentu. Prototype nya ada pada Nabi Muhammad (sebagai personal piety) dan Masyarakat Madani (dalam aspek social piety)

****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: